
AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) adalah penyakit yang disebabkan adanya infeksi bakteri vibrio parahaemolyticus (Vp AHPND).
Bakteri ini mampu memproduksi toksin dan menyebabkan kematian pada udang dengan mortalitas bisa mencapai 100%. AHPND sering disamakan juga dengan penyakit Early Mortality Syndrome (EMS).
Kematian akibat AHPND terjadi pada umur kurang dari 40 hari setelah ditebar di tambak. Penyakit tersebut pertama kali muncul di Tiongkok pada 2009 dan dikenal dengan sebutan covert mortality disease.
Organ target yang menyebabkan AHPND adalah organ pencernaan yaitu :
- Hepatopankreas,
- Usus,
- Lambung.
Gejala klinis yang nampak pada udang yang terserang AHPND :

- Hepatopankreas pucat dan mengkerut,
- Usus dan lambung kosong (tidak ada pakan),
- Warna badan pucat dan kekuningan.
Baca Juga : Teknik Pengendalian Penyakit Berak Putih Pada Budidaya Udang Vaname
Cara mendiagnosis adanya kemungkinan terserangnya AHPND pada udang di kolam :
- Udang mati dalam jumlah banyak di dasar petak
- Pola kematian terus menerus (persisten & progresif),
- Gerakan larva lemah dan gerakan berputar,
- Terjadi kematian mendadak pada stadia larva dan pasca larva sampai >30%.
Penyebab utama kasus AHPND muncul paling banyak terjadi adalah akibat :
- Padat tebar tinggi
- Salinitas tinggi (> 20 ppt),
- Kualitas air buruk tidak adanya tandon dan perlakuan air masuk,
- Musim panas atau kemarau,
- Persiapan petak tambak yang kurang sempurna,
- Post Larva stress selama pengangkutan dan aklimatisasi,
- DO / Oksigen Terlarut rendah,
- Kualitas dan manajemen pakan yang buruk.
Kemampuan survive Vibrio parahaemolyticus merupakan momok besar bagi ancaman serangan penyakit AHPND pada udang. Bakteri Vibrio parahaemolyticus biasanya ditemukan di lingkungan estuarin dan pantai/laut di seluruh dunia, asosiatif dengan organisme akuatik di lingkungan esuarin ( zooplankton, moluska, krustasea, ikan, dll).


Pencegahan yang bisa dilakukan agar penyakit AHPND tidak menyerang pada udang
A. Persiapan siklus produksi
- Benur harus berasal dari broodstock (Induk) bebas AHPND dan kesehatan umum benur harus diperiksa sebelum ditebar, termasuk dalam uji stres.
- Semua fasilitas harus didisinfeksi sebelum penebaran
- Kolam pembesaran harus dilapisi dengan plastik HDPE agar mudah dibersihkan dan dikendalikan.
- Sebelum ditebar, kolam harus benar-benar kering dan air juga harus dikondisikan selama 10–15 hari sebelum udang ditebar.
- Rencana biosekuriti yang menyeluruh harus diterapkan dan ditinjau setiap siklus.
- Lindungi tambak dari spesies asing, misalnya dengan menggunakan alat pelindung kepiting.
- Untuk menghindari infeksi, penebaran harus dilakukan di satu area di waktu yang bersamaan. Dianjurkan untuk menebar ke dalam air yang memiliki Vibrio kurang dari 1 x 10^3 CFU/ml – yang berarti spesies ini berjumlah kurang dari 1 persen dari total konsentrasi bakteri.
Baca Juga : Penanganan Hama dan Penyakit pada Budidaya Udang Vanamei
B. Mitigasi (upaya mengurangi resiko) AHPND selama masa pembesaran
- Parameter kualitas air – termasuk tingkat pH, alkalinitas, salinitas, oksigen terlarut (DO), nitrogen amonia, dan hidrogen sulfida – harus dipantau secara teratur.
- Kesehatan udang harus dipantau setiap tiga hari, termasuk pemeriksaan kram dan hepatopankreas.
- Tabel pakan harus disesuaikan untuk menghindari pemberian makan berlebihan dan disarankan untuk memberi makan dengan kandungan protein lebih dari 30 persen.
- Sedimen harus disedot secara teratur.
- Aerasi yang tepat harus dijaga.
- Probiotik harus diberikan secara teratur dan jumlahnya ditingkatkan saat tingkat stress tinggi atau saat pertukaran air sedang berlangsung.
- Sepakati saluran keluar-masuk air dengan semua tambak di area tersebut untuk mengurangi patogen yang berpindah antartambak.
- Saat gejala penyakit terdeteksi, rencana pengelolaan harus dilakukan dan apabila ada indikasi penyakit, segera konfirmasi dengan tes laboratorium.
(Penulis : Febri-P3UW Lampung)
Referensi :
- Dokumen KKP RI (https://kkp.go.id)
- The Fish Site (https://thefishsite.com)
Berita Lainnya :
- Cari Solusi Gagal Panen, Didampingi P3UW Lampung, DKP Lampung Identifikasi Lingkungan Tambak Dipasena
- P3UW Lampung Hadiri Diskusi Teknis Tantangan Budidaya Udang di Bandar Lampung
- Univance Coorporation Jepang Tawarkan Tehnologi Sinar UV Pembunuh Virus dan Bakteri Patogen
- Perkuat Sektor Budidaya Perikanan, WWF Indonesia Gelar Seminar Dan Pameran Teknologi Budidaya di Dipasena
- JALA TECH LUNCURKAN PROGRAM TAMBAK PINTAR DI P3UW LAMPUNG